Jumat, 30 Januari 2009

PENDAKI


Suatu ketika, ada seorang pendaki gunung yang sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel carrier dan beragam carabiner(pengait) yang tampak bergelantungan. Tak lupa tali-temali yang disusun melingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat,persiapan yang dilakukan pun lebih lengkap.

Kini, di hadapannya menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat, tertutup salju yang putih. Ada awan berarak-arak di sekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi didalamnya. Mulailah pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang di sandangnya, tampak menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.

Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yang terjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan,tiba-tiba terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada badai salju yang datang tanpa disangka. Longsoran salju tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang
membuat tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.

Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah,tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di pinggangnya.
Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur, karena semuanya tampak memutih. ia tak tahu dimana ia berada. Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya.

Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. "Potong tali itu.... potong tali itu. Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi keputusan ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa...

Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu tampak membeku,dan tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja....

***

Teman, kita mungkin kita akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu, yang tak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakan pendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan bisa selamat dengan membiarkannya terjatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter. Ia tentu tak harus mati kedinginan karena tali itulah yang justru membuatnya terhalang.
Begitulah, kadang kita berpikir, mengapa Sang Pencipta tampak tak melindungi hamba-Nya? Kita mungkin sering merasa, mengapa ada banyak sekali beban,masalah, hambatan yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini.
Kita sering mendapati ada banyak sekali badai-badai salju yang terus menghantam tubuh kita. Mengapa tak disediakan saja, jalan yang lurus,tanpa perlu menanjak, agar kita terbebas dari semua halangan itu?

Namun teman, cobaan yang diberikan Sang Pencipta buat kita, adalah latihan,adalah ujian, adalah layaknya besi-besi yang ditempa, adalah seperti pisau-pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di dalam semua ujian, dan latihan itu,ada tersimpan petunjuk-petunjuk, ada tersembunyi tanda-tanda, asal KITA PERCAYA.

Ya, asal kita percaya.
Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, sehingga mampu membuat kita "memotong tali pengait" saat kita tergantung terbalik? Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, hingga kita mau menyerahkan semua yang ada dalam diri kita kepada-Nya?

Karena percaya adanya di dalam hati, maka tanamkan terus hal itu dalam kalbumu. Karena rasa percaya tersimpan dalam hati,maka penuhilah nuranimu dengan kekuatan itu.Teman, percayalah, akan ada petunjuk-petunjuk Sang Pencipta dalam setiap langkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali, dan temukan rasa percaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya,
maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka.

Jumat, 09 Januari 2009

Goresan Di Mobil Ferrari


Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Ferrari yang mengkilap.

Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu.

Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.

Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.

"Buk....!" Aah..., ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Ferrari itu yang dilemparkan si anak itu.

Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.

"Cittt...." ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan.

Ferrari yang tergores, bukanlah perkara sepele.

Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati.

Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa.

Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

"Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!"
Lihat goresan itu", teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.

"Kamu tentu paham, mobil baru Ferrariku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya.

"Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf.

"Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.

"Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.

"Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti...."

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.

"Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku.

Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan.." Kini, ia mulai terisak.

Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.

"Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda?

Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya."

Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam.

Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan.

Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah.

Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.

Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Ferrari kesayangannya.

Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.

"Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak."

Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Ferrari miliknya. Dtelusurinya pintu Ferrari barunya yang telah tergores itu oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya.

Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya.

Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu.

Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini.

Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: "Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu."

Sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan.
Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan.
Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada
masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?
Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita.
Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya.
Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.

Kadang memang, ada yang akan "melemparkan batu" buat kita agar kita
mau dan bisa berhenti sejenak.
Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya,
atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

Kisah Seekor Tikus


Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam

"Hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak

"Ada Perangkap Tikus di rumah!!! Di rumah sekarang ada perangkap tikus!!"

Ia mendatangi ayam dan berteriak

"Ada perangkap tikus"

Sang Ayam berkata

"Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Lalu sang Kambing pun berkata

"Aku turut bersimpati... tapi maaf, tidak ada yang bisa aku lakukan"

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama.

"Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata

"Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku"

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya yang berbunyi. Menandakan perangkapnya telah memakan korban. Namun ketika melihat perangkap tikusnya, seekor ular berbisa telah terjebak di sana. Ekor ular yang terjepit membuatnya semakin ganas dan menyerang istri si Petani. Walaupun sang Suami berhasil membunuh ular tersebut, namun sang istri tidak sempat tergigit dan teracuni oleh bisa ular tersebut.

Setelah beberapa hari di rumah sakit, sang isteri sudah diperbolehkan pulang. Namun selang beberapa hari kemudian demam tinggi yang tak turun-turun juga. Atas saran kerabatnya, ia membuatkan isterinya sup ayam untuk menurunkan demamnya. Semakin hari bukannya semakin sembuh, justru semakin tinggi demam isterinya. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk diambil hatinya.

Masih! Istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga ia harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. Dari kejauhan sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi di rumah itu.

Nilai-nilai yang bisa kita ambil dari kisah di atas, suatu ketika anda mendengar seseorang sedang dalam kesulitan/masalah dan anda mengira itu bukan urusan anda, maka pikirkanlah sekali lagi.

Bejana Anggur


Alkisah ada sebuah cerita.....

Hao Se adalah seorang penasihat raja yg sangat bijaksana, namun wajahnya buruk rupa. Suatu hari pangeran / anak lelaki raja yang sangat iri karena Hao Se mendapat lebih banyak perhatian dari ayahnya daripada dia...mencoba menghina dia.

Maka dengan menyindir pedas, pangeran itu bertanya kepada Hao Se, "Jika engkau memang bijaksana, tolong beritahu saya mengapa Tuhan memilih menyimpan begitu banyak kebijaksanaan di dalam bejana yg sedemikian sederhana."

Hao Se lalu bertanya, "Apakah ayahmu mempunyai anggur?"

"Saya kira setiap orang di dunia tahu bahwa ayah saya memiliki banyak anggur terbaik. Betapa bodohnya pertanyaan itu?"

"Tapi dimana ia menyimpan anggurnya?" tanya Hao Se

"Loh? Tentu saja di bejana tanah liat" jawab pangeran itu dg cepat.

"Tanah liat??? Hahahahahaha..." Hao Se tertawa terbahak-bahak sampai pangeran itu berteriak padanya dengan marah.

"Maaf", kata Hao Se, "tapi saya terkejut bahwa orang seagung ayahmu menggunakan tanah liat, bahan yang sederhana itu, padahal rakyat jelata pun menyimpn anggurnya di bejana tanah liat. Saya harap anggur istana seharusnya disimpan di dalam sesuatu yg lebih istimewa, seperti bejana perak atau emas." Dia membungkuk lalu meninggalkan pangeran muda itu.

Dengan cepat, pangeran itu pergi ke tempat penyimpanan anggur & memberi tahu pelayan agar memindahkan anggur itu ke dalam bejana emas atau perak. Tak lama sesudah itu, raja menjamu banyak orang & memberikan anggur terbaiknya. Para tamu itu menghirup anggur & wajah mereka berkerut. Anggur itu telah terasa masam. Raja menjadi sangat marah & memanggil pelayannya untuk meminta penjelasan yang segera didapatnya. Hasilnya....putra raja segera mendapat teguran keras.

Setelah perjamuan itu, pangeran pergi ke kamar Hao Se & berteriak, "Mengapa engkau menipu saya sehingga saya memindahkan anggur dari bejana tanah liat ke dalam bejana peak & emas."

"Saya sungguh menyesal Nak", kata Hao Se, "tapi mungkin engkau mulai bisa mengerti mengapa Tuhan lebih suka meletakkan kebijaksanaanNya di dalam tempat-tempat yang sederhana. Kebijaksanaan itu seperti anggur, disimpan di dalam bejana sederhana. Bejana sederhana itu justru menyempurnakan isinya".

Rabu, 03 Desember 2008

Angsa dan Gadis Kecil

-Once upon a time, in a land far far away.. sak wijining dina ing sakwijining papan.. pada suatu ketika di negeri antah berantah..-


Pada suatu ketika, hiduplah seekor angsa yang tidak berbeda dengan kebanyakan angsa pada umumnya. Suatu pagi, ia keluar dari peraduannya dan berjalan menuju sebuah telaga tak jauh dari sarangnya.


Dedaunan masih basah oleh beningnya embun. Angin semilir pun masih terasa dingin, membuat bulu-bulu angsa sedikit terangkat. Beberapa langkah berjalan, ia berpapasan dengan seekor burung nuri yang terbang rendah pagi itu.

“Hai angsa, hendak ke telaga ya.. Eh angsa, kok warna bulumu hanya putih?” kata burung itu.

“Iya. Buluku hanya berwarna putih, dan aku menerimanya,” kata angsa singkat sembari berjalan.

Tak lama kemudian kembali ia berpapasan dengan seekor burung gagak yang tengah bertengger di sebuah ranting pohon. Butir embun jatuh ke tanah dari beberapa helai daun saat gagak hinggap.

“Hai angsa, kenapa paruhmu pipih seperti itu?” tanya gagak yang kemudian terbang menjauh dengan ber-kaok. Suaranya makin lama semakin sayup dan menghilang.

“Iya. Paruhku pipih, dan aku menerimanya,” jawab angsa.

Angsa pun melanjutkan langkah, dan air telaga jernih membiru mulai terlihat olehnya. Kali ini ia berpapasan dengan seekor puyuh yang sedang mencari makan di sela-sela rerumputan dan belukar.

“Hai angsa, kenapa lehermu panjang sekali?” tanya si puyuh.

“Iya. Leherku panjang, dan aku menerimanya,” kata angsa kembali memberi jawaban singkat dengan tetap berjalan.

Sampailah ia di tepi telaga. Dengan bergegas, angsa mendekati air yang memang masih dingin sepagi itu. Diulurkannya salah satu kaki ke air, namun beberapa saat sebelum menyentuh dinginnya air telaga, kembali terdengar sebuah pertanyaan untuknya.

“Hai angsa, kenapa kakimu berselaput?” kali ini suara berasal dari seekor elang yang baru saja menyambar ikan buruannya di telaga. Ikan malang itu masih ada di cengkeraman, saat elang terbang melintas di atas angsa.

“Iya. Kakiku berselaput, dan aku menerimanya,” jawab angsa singkat.

Angsa pun berenang di jernihnya air telaga.

“Bisa saja aku men-cat buluku dengan warna-warni indah ataupun warna emas.

Bisa saja aku mengganti paruhku dengan paruh tajam dan kuat, seperti paruh gagak.

Bisa saja aku memotong leherku agar tak sepanjang ini.

Bisa saja aku mengganti kakiku yang berselaput dengan cakar yang kuat, sekuat cakar elang.

Hanya, jika aku tak menerima apa yang ada ini,” senandung angsa sambil berenang di jernihnya air telaga. Entah telah berapa lama angsa berada di telaga, namun kini mentari telah mulai tinggi dan memancarkan sinar hangatnya.

“Mama lihat..! Ada bebek cantik Ma..!” kata seorang anak di tepi telaga memacah kesunyian.

“Oh itu bukan bebek, tapi angsa,” jawab si ibu setelah mengarahkan pandangan mengikuti telunjuk si kecil.

“Oh angsa.. Angsa yang cantik ya Ma..?!” rengeknya.

“Iya sayang, angsa yang cantik. Seperti putri mama ini,” jawab si ibu kepada putri kecilnya seraya menggandeng tangan mungilnya.

Ada senyum kecil di paruh angsa saat ia berenang menghampiri kawanan angsa-angsa lain di seberang sisi telaga. “Iya. Aku menerimanya,” kata angsa dalam hati.

The end

Dua keponakanku telah terlelap, aku pun ikut terlelap.

pernah diposting di sini

Poem of Friendship



We need friends for many reasons,
all throughout the season.
We need friends to comfort us
when we are sad,
and to have fun with us when we are glad.

We need friends to give us good advice,
We need someone we can count on,
and treat us nice.

We need friends to remember us
one we have passed
sharing memories that will always last.